Layla dikenal sebagai "Putri Eruditio", seorang anggota Eruditio Rangers yang selalu melindungi kotanya dengan senjata pemberian sang kakek, Thomas. Keberaniannya membuat ia dianugerahi gelar "Shining Star" setelah berhasil mempertahankan Starlium Reactor, sumber teknologi utama Eruditio, dari serangan musuh. Ceria, pemberani, dan suka membantu siapa saja, Layla menjadi sosok yang dicintai oleh seluruh warga Eruditio.
Sejak kecil, Layla dibesarkan oleh kakeknya setelah kedua orang tuanya menghilang. Setiap kali ia bertanya tentang mereka, Thomas hanya mengatakan bahwa mereka meninggal dalam sebuah tragedi. Demi tidak membuat kakeknya bersedih, Layla berhenti bertanya. Namun suatu hari, ia diam-diam mengikuti Thomas dan menemukan makam ibunya, Lillian, seorang ilmuwan hebat yang gugur demi kemajuan Eruditio. Di sampingnya terdapat sebuah makam tanpa nama yang diyakini sebagai ayahnya, menyisakan misteri yang belum terungkap.
Meski tidak mewarisi kecerdasan luar biasa seperti ibunya dan sering gagal dalam pelajaran, Layla memiliki keberanian dan rasa keadilan yang tinggi. Ia memutuskan untuk melindungi Eruditio, kota yang telah diperjuangkan oleh ibunya hingga akhir hayat. Thomas sebenarnya merasa lega karena Layla tidak menjadi seorang Scholar, sebab ia tidak ingin cucunya mengalami nasib tragis yang sama seperti Lillian.
Saat Eruditio kembali diserang, Layla mempertaruhkan nyawanya demi melindungi kota tersebut hingga mengalami luka yang sangat parah. Peristiwa itu membuat Thomas teringat pada pengorbanan putrinya bertahun-tahun yang lalu. Namun ketika Layla pulih, ia tidak memarahinya. Sebaliknya, Thomas memeluknya dengan bangga dan berkata bahwa Lillian pasti akan sangat bangga melihat putrinya.
Sebagai tanda kepercayaan, Thomas menyerahkan sebuah senjata prototipe yang selama lima belas tahun ia simpan. Senjata itu merupakan hasil karya kedua orang tua Layla. Sejak saat itu, Layla bertarung menggunakan senjata tersebut untuk melindungi Eruditio. Setiap kali menggenggamnya, ia merasa seolah kedua orang tuanya selalu berada di sisinya, membimbing langkahnya dalam menjaga kedamaian kota yang mereka cintai.
Layla dikenal sebagai "Putri Eruditio", seorang anggota Eruditio Rangers yang selalu melindungi kotanya dengan senjata pemberian sang kakek, Thomas. Keberaniannya membuat ia dianugerahi gelar "Shining Star" setelah berhasil mempertahankan Starlium Reactor, sumber teknologi utama Eruditio, dari serangan musuh. Ceria, pemberani, dan suka membantu siapa saja, Layla menjadi sosok yang dicintai oleh seluruh warga Eruditio.
Sejak kecil, Layla dibesarkan oleh kakeknya setelah kedua orang tuanya menghilang. Setiap kali ia bertanya tentang mereka, Thomas hanya mengatakan bahwa mereka meninggal dalam sebuah tragedi. Demi tidak membuat kakeknya bersedih, Layla berhenti bertanya. Namun suatu hari, ia diam-diam mengikuti Thomas dan menemukan makam ibunya, Lillian, seorang ilmuwan hebat yang gugur demi kemajuan Eruditio. Di sampingnya terdapat sebuah makam tanpa nama yang diyakini sebagai ayahnya, menyisakan misteri yang belum terungkap.
Meski tidak mewarisi kecerdasan luar biasa seperti ibunya dan sering gagal dalam pelajaran, Layla memiliki keberanian dan rasa keadilan yang tinggi. Ia memutuskan untuk melindungi Eruditio, kota yang telah diperjuangkan oleh ibunya hingga akhir hayat. Thomas sebenarnya merasa lega karena Layla tidak menjadi seorang Scholar, sebab ia tidak ingin cucunya mengalami nasib tragis yang sama seperti Lillian.
Saat Eruditio kembali diserang, Layla mempertaruhkan nyawanya demi melindungi kota tersebut hingga mengalami luka yang sangat parah. Peristiwa itu membuat Thomas teringat pada pengorbanan putrinya bertahun-tahun yang lalu. Namun ketika Layla pulih, ia tidak memarahinya. Sebaliknya, Thomas memeluknya dengan bangga dan berkata bahwa Lillian pasti akan sangat bangga melihat putrinya.
Sebagai tanda kepercayaan, Thomas menyerahkan sebuah senjata prototipe yang selama lima belas tahun ia simpan. Senjata itu merupakan hasil karya kedua orang tua Layla. Sejak saat itu, Layla bertarung menggunakan senjata tersebut untuk melindungi Eruditio. Setiap kali menggenggamnya, ia merasa seolah kedua orang tuanya selalu berada di sisinya, membimbing langkahnya dalam menjaga kedamaian kota yang mereka cintai.